Jumat, 22 Juni 2012

HIDROPONIK : MENANAM TANPA TANAH


Hidroponik merupakan teknik penanaman tumbuhan tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang berarti air, tetapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang atau batu bata, potongan kayu, dan busa.
Mungkin, sebagai besar orang tidak akan percaya bahwa di antara ratusan tomat yang dimakan tidak tumbuh di atas tanah, melainkan di air. Seperti percobaan yang dilakukan oleh salah satu bapak hidroponik, Dr. W.R. Gericke dari Universitas California tahun 1930-an. Latar belakang Gericke meneliti sistem hidroponik ini karena dia melihat luas tanah di sekelilingnya terasa semakin menciut untuk ditumbuhi berbagai tanaman.
Hasil penelitiannya yang mudah dan praktis ini pun cepat diketahui seantero Amerika. Bahkan, tentara-tentara Amerika yang dinas di pulau-pulau gersang dan terisolasi pun ikut menumbuhkan tanaman sayuran di ruang tertentu dengan menggunakan sistem hidroponik. Begitu pula di Jepang, yang melaksanakan sistem penanaman hidroponik segera setelah Perang Dunia II untuk persediaan makanan bagi tentara pendudukan Amerika.
Sejak saat itu, banyak dibuat unit hidroponik yang berskala besar di Meksiko Puerto Rico, Hawaii, Israel, Jepang, India, dan Eropa. Secara lebih kompleks lagi, hidroponik dijadikan sebagai bisnis besar dan diselenggarakan proyek riset terhadapnya. Selain itu, juga banyak berdiri perusahaan-perusahaan yang menaruh perhatian pada bidang bercocok tanam paling logis di bumi dengan penduduk yang terus bertambah.
Menurut Nicholls (1986), semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya. Elemen dasar yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah tetapi cadangan makanan serta air yang terkandung dalam tanah yang diserap oleh akar dan juga dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan zat-zat hara dari dalam tanah. Hal ini berarti, tanpa tanah pun, suatu tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam yang merupakan nutrisinya.
Manipulasi yang dapat dilakukan selain perlakuan di atas adalah pengontrolan. Dengan perawatan rutin (sehari hanya memakan waktu maksimal 20 menit), kita dapat menikmati bermacam-macam buah dan sayuran, rempah-rempah, dan tanaman obat.
Metode hidroponik memungkinkan orang-orang yang tinggal di rumah dengan halaman yang sempit dapat menikmati buah dan sayuran dari tangan dingin di tempat sendiri karena penanaman secara hidroponik tidak memerlukan tanah. Keuntungan yang diperoleh dengan sistem penanaman hidroponik ini juga melimpah. Pada bidang tanah yang sempit dapat ditumbuhi lebih banyak tanaman dari yang seharusnya. Air dan pupuk dapat lebih awet karena dapat dipakai ulang. Nicholls (1986) menambahkan pula, hidroponik memungkinkan kita untuk mengatur tanaman lebih teliti dan menjamin hasil yang baik dan seragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar